Breaking News
Home / Pengetahuan Umum / Budidaya Cabai Rawit

Budidaya Cabai Rawit

Budidaya Cabai Rawit, cabai rawit dengan nama ilmiah Capsicum frustescens merupakan tanaman yang buahnya dapat dijadikan sebagai bumbu masak. Cabe rawit merupakan famili dari Solanaceae. Setiap orang pasti sudah mengenal bahkan cabe merupakan bumbu masak alamiah yang mampu menggugah selera dan memberi rasa pedas pada menu masakan. Bagi Anda yang sering memakan sambal, rasanya tidak enak jika makan tanpa adanya rasa pedas pada sayur atau menu kuliner lainnya. Sebab, hampir seluruh menu kuliner yang disajikan di berbagai restaurant, warung makan, hotel dan tempat wisata kuliner semuanya jenis sayurnya tidak lepas dari penambahan cabai rawit di dalamnya.

Syarat tumbuh serta karakteristik Cabai Rawit

Tanaman cabai rawit ini memiliki karakteristik daun yang hijau tua dan kadang-kadang berwarna hijau muda, memiliki akar serabut, merupakan tumbuhan monokotil, perawakan tubuh kadang-kadang memiliki ketinggian 80-90 cm, daun berurat menjari, bunga kelipatan 3. Bunganya biasanya menggantung diantara ketiak batang maupun ketiak daun, batangnya tidak beruas-ruas, buah cabai rawit yang masih muda berwarna hijau muda dan buah yang sudah matang berwarna merah.

Tanaman cabai rawit ini sangat cocok hidup di daerah dataran rendah maupun di dataran tinggi (seperti daerah-daerah perbukitan maupun pegunungan), di daerah ladang, atau perkebunan yang luas. Tanaman cabai rawit membutuhkan iklim sedang serta ketersedian air yang cukup di sepanjang musimnya. Kondisi cuaca dan iklim yang mendukung untuk bercocok tanam cabai rawit adalah kisaran suhu 17 – 26 derajat celcius, dengan kelembaban 50-60 %.

Umumnya para petani menanam cabai rawit pada lahan yang memiliki kadar humus tinggi, tanahnya gembur dan tidak gersang, memiliki banyak unsur hara penting, serta sangat cocok ditanam pada tanah jenis aluvial ataupun latosol. Tingkat keasamaan (pH) tanah yang cocok untuk tanaman cabe rawit berkisar 5,3 – 5,5.

Budidaya Cabai Rawit

Jenis Tanaman Cabai Rawit

Setidaknya ada beberapa varietas/jenis tanaman cabai rawit yang sering ditanam oleh para petani diantaranya:

  • Cabai Rawit Kecil atau biasanya disebut cabai jemprit dengan buahnya yang kecil-kecil dan pendek sehingga tidak heran jika rasanya sangat pedas dibandingkan dengan jenis cabai lainnya.
  • Cabai putih atau cabai domba, memiliki buah yang lebih besar daripada cabai jemprit atau cabai celepik, dengan cita rasa buahnya yang kurang enak dan kadang-kadang tidak terlalu pedas.
  • Cabai Celepik, memiliki buah yang lebih besar daripada cabai jemprit dan lebih kecil dari cabai domba/cabai putih. Rasanya tidak sepedas cabai jemprit. Sewaktu muda cabai celepik memiliki warna kulit buah berwarna hijau muda atau terkadang berwarna hijau tua, dan setelah matang berwarna merah padam.

Budidaya Cabai Rawit-1

Cara Budidaya Cabai Rawit

Pada dasarnya budidaya tanaman cabai rawit dapat dilakukan oleh petani di berbagai jenis lahan, baik itu dilakukan penanaman di daerah ladang, persawahan, perkebunan, tanah lapang, maupun di halaman rumah. Memperoleh hasil panen cabai rawit yang melimpah ruah sangat diinginkan oleh para petani yang hendak membudidaya tanaman ini. Ada beberapa langkah dalam budidaya cabai rawit mulai dari pengolahan tanah/lahan, penyemaian bibit yang benar, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan.

1. Pengelolaan Tanah/Lahan

Pengelolaan tanah/lahan dapat dilakukan dengan membajak sawah menggunakan mesin traktor atau dapat dilakukan dengan mencangkul sedalam 25 – 30 cm hingga tanah menjadi gembur. Selanjutnya biarkan tanah tersebut hingga 7 – 14 hari agar memperoleh sinar matahari yang cukup. Setelah itu, buatlah bedengan dengan lebar bedeng 100 – 120cm, tinggi bedeng 20-30cm, dan jarak antar bedeng yang satu dengan lainnya yakni 30 – 45cm. Arah bedeng memanjang dari arah utara ke selatan agar memperoleh pancaran cahaya matahari yang cukup. Selanjutnya siapkan pupuk kandang atau pupuk kompos dengan syarat tidak berbau, kering, tidak panas. Jarak tanam antara satu tanam cabai rawit yaitu 50 x 90cm atau 50 x 70cm atau 50 x 100cm dan disesuaikan dengan kebutuhan. Langkah selanjutnya yaitu membuat jarak tanaman dengan cara:

  • Pasang tali kenca/pelurus sejajar dengan panjang bedeng (kira-kira 10cm dari tepi bedeng)
  • Ukur jarak tanam yang diinginkan sesuai panjang tali kencana tersebut.
  • Membuat lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang ditentukan.

Kemudian berilah masing-masing lubang tanam dengan pupuk kandang terlebih dahulu. Ketika usia tanaman sudah berumur 1 bulan lebih sebaiknya gunakan saja pupuk kandang karena memiliki komposisi unsur hara yang ramah dengan akar tanaman muda. Jika menggunakan pupuk seperti Urea, TSP, dan sebagainya sangat dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan akar, meskipun ada beberapa petani yang mencampurkan antara pupuk kandang dengan pupuk TSP, Urea, maupun KCL.

Budidaya Cabai Rawit

2. Penyemaian Bibit Yang Benar

Penyemaikan bibit dilakukan untuk memperoleh tumbuhan muda (anakan) yang akan dibesarkan sehingga menghasilkan buah yang diinginkan. Adapun tahapan penyemaian bibit dalam budidaya cabai rawit yang baik yakni;

  • Membuat bedeng atau tempat persemaian bibit dengan ukuran bedeng yakni lebar bedeng 1 – 1,2 meter, panjang bedeng 3 – 5 meter, dan tinggi bedeng 15 – 20 cm.
  • Penyemaian bibit, yakni dengan melibatkan kebutuhan benih 300 – 500 butir untuk tiap hektarnya. Sebelum benih ditabur, sebaiknya tempat persemaian/bedeng disiram secara merata, setelah itu barulah benih disemai dengan beberapa alternatif cara yakni; Semai bebas atau ditabur merata, semai dalam baris, atau semai kelompok.

3. Penanaman Cabai Rawit

Bibit cabai rawit yang telah berusia satu bulan sebaiknya segera ditanam. Penanaman sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari agar batang tanaman dan daunnya tidak layu. Beberapa ciri/kriteria bibit yang siap ditanam yaitu telah berumur satu bulan, tidak terserang hama dan penyakit, pertumbuhan tanaman seragam.

Sementara itu untuk tata cara penanaman cabai rawit yakni pertama menyiram bibit yang akan ditanam dengan air bersih, pilihlah bibit yang akan ditanam, jika penyemaian bibit sebelumnya menggunakan polybag sebaiknya lepas dulu bibit dari polybag tersebut, padatkan tanah disekeliling tanaman bibit yang telah dimasukan ke dalam lubang tanam agar tidak mudah rebah/jatuh.

4. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman cabai rawit melibatkan beberapa metode seperti:

  • Penyiraman, dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari atau disesuaikan dengan keadaan tanah serta curah hujan yang ada di wilayah setempat.
  • Penyiangan, dilakukan semata-mata untuk menghambat pertumbuhan tanaman liar pengganggu (gulma). Rumput/gulma yang ada di sekitar tanaman sebaiknya dicabut dengan disiang menggunakan alat koret/sabit. Tujuan pencabutan gulma/rumput liar agar tidak mengambil nutrisi yang ada pada tanah sekitar akar tanaman cabai rawit tersebut.
  • Pemupukan, yaitu dengan melibatkan sejumlah pupuk kimia untuk satu hektarnya seperti pupuk Urea = 200kg, TSP= 200kg, dan pupuk KCL sebanyak 150 kg.
  • Hama dan penyakit pada tanaman, seperti diketahui banyak sekali jenis hama yang menyerang tanaman cabai rawit seperti hama wereng yang merusak struktur daun muda, tungau merah, kutu daun berwarna kuning yang sering menyebabkan daun menjadi keriting dan terlihat pucat, serta jenis kutu gurem atau biasa disebut thrips. Tanda-tanda tanaman terserang penyakit yakni tanaman berwarna seperti perak, daun menjadi layu, daun mengering bahkan keriting dan adanya bercak-bercak kuning-kecokelatan, tanaman tampak pucat, dan kadang-kadang akar tanaman juga diserang oleh jenis jamur parasit sehingga dapat membuat tumbuhan rawit menjadi mati seketika. Biasanya hama pengganggu tanaman dapat dibasmi dengan menggunakan beberapa obat dari pestisida cair, atau dengan menggunakan predator biologi yang lebih aman.

5. Panen

Kegiatan panen cabai rawit adalah hal yang sering dinanti-nanti oleh para petani setelah mengalami jerih payah selama proses penenaman, perawatan, serta pengendalian hama pengganggu tanaman. Untuk produksi panen cabai rawit hampir sama dengan cabai besar, hanya saja usia cabai rawit lebih lama yaitu 2-3 tahun, sehingga produksi cabai rawit lebih tinggi daripada cabai besar. Cabai rawit dapat dipanen ketika buahnya sedang berwarna hijau tua, merah atau sudah matang. Jika cabai rawit dipanen hijau, cabe kelihatan bernas dan berisi. Pemanenan cabai rawit dapat dilakukan 4-7 hari sekali dalam satu minggunya. Hal ini dilakukan untuk memberi keseragaman cabai rawit agar matang secara bersama, sehingga pemanenan dilakukan secara serentak dan pemanenan juga tergantung pada situasi harga di pasaran.

Informasi dan pemesanan produk Budidaya Cabai Rawit, silahkan hubungi kami melalui yang tertera dibawah ini.


counter free hit unique web